Jumat, 20 November 2015

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK DENGAN GANGGUAN SISTEM GENITOURINARIA (GAGAL GINJAL KRONIK) SECARA TEORITIS

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Keperawatan suatu bentuk  pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, pelayanan berbentuk biopsiko, sosial, spiritual, dan cultural yang ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan ilmu keperawatan berdasarkan kepada suatu teori yang sangat luas.
Kesehatan adalah salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran dan kemauan untuk hidup sehat yang setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal
 (Nursalam, 2001).
Ginjal merupakan salah satu organ penting dalam tubuh manusia. Fungsi ginjal yang terpenting adalah untuk mempertahankan homeostasis biokimiawi yang normal didalam tubuh, hal ini dilakukan dengan cara mengeksresikan zat-zat yang tidak diperlukan lagi melalu proses filtrasi glomerulus, reabsorbsi dan sekresi tubulus.
Jika proses filtrasi glomerulus, reabsorbsi dan sekresi tubulus dimana 75% nefron mengalami kerusakan maka, ginjal tidak mampu lagi melaksanakan fungsinya secara penuh dalam membuang zat-zat racun dalam tubuh seseorang sehingga terjadilah berbagai penyakit ginjal diantaranya gagal ginjal kronik.
Gagal ginjal kronik (GGK) adalah gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan retensi uretra dan sampah netrogen lain dalam darah
(Brunner, 2010).

Penyakit ini disebabkan oleh glomerulonefritis kronis, sumbatan pada traktus urunarius, diabetes militus, pielonefritis, nefrotik toksit, nefrotik absorbsi. Sedangkan gejala yang ditimbulkan seperti edema, sakit kepala, malaise anemia, nafsu makan menurun, ureum yang meningkat.
Gagal ginjal kronik merupakan gangguan  fungsi renal yang frogresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga terjadi uremia.
Indonesia peningkatan penderita penyakit ini mecapai angka 20 % pusat data dan informasi perhimpunan rumah sakit seluruh indonesia (PDPERSI) menyatakan jumlah gagal ginjal kronik diperkirakan sekitar 50 orang per satu juta penduduk berdasar kan data dari indonesia renal tregistry, suatu kegiatan registrasi dan perhimpunan nefrologi indonesiapada tahun 2008 jumlah pasien hemodealisa (cuci darah) mencapai 2260 orang dari 2146 pada tahun 2007
 (Roderick, 2009).
Realita lapangan menunjukan, betapa pemberian pelayanan keperawatan dan pengobatan pada unit-unit rumah sakit belum memenuhi standar yang diharapkan, terutama pada kasus klien dengan gagal ginjal kronik. Dengan adanya kegiatan pembuatan makalah ilmiah ini akan mendorong tenaga keperawatan berlebih-lebih penulis sendiri untuk memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan nilai-nilai profesionalisme.
Penulis berharap askep ini dapat memberikan kontribusi positif bagi progesifitas pelayanan keperawatan klien dengan gagal ginjal kronik dan bagi masyarakat luas diharapkan akan lebih mengetahui dan memahami penyakit gagal ginjal kronik sehingga penyakit ini dapat diminimalkan insidennya, bahkan dieradikasi terutama dibumi kalimantan barat.
Sulitnya klien dengan gagal ginjal kronik untuk dapat sembuh secara optimal dan bila tidak ditangani dengan tepat akan mengakibatkan kematian. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengangkat kasus ini kedalam makalah askep. Penulisan  berkeyakinan ,masih banyak hal-hal yang harus diteliti dan dikembangkan dalam dalam penanganan klien dengan gagal ginjal kronik, khususnya dalam pemberian asuhan keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan.

B.     Ruang Lingkup Penulisan
Mengingat luasnya permasalahan, maka penulis membatasi hanya pada pembahasan “ Asuhan Keperawatan Teoritis dengan gangguan sistem genitourinaria : Gagal Ginjal Kronik di Ruang.

C.    Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien gagal ginjal kronik disamping itu juga dapat memberikan pengalaman secara nyata dalam penulisan dan penyusunan asuhan keperawatan yang lazim digunakan.
2.      Tujuan Khusus
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan gagal ginjal kronik penulis mengharapkan dapat melakukan asuhan keperawatan dengan tujuan berikut :
a.       Memperoleh gambaran dan melaksanakan pengkajian pada klien gagal ginjal kronik.
b.      Dapat menyusun diagnosa keperawatan dan memprioritaskan masalah klien gagal ginjal kronik.
c.       Membuat rencana tindakan keperawatan gagal ginjal kronik.
d.      Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan  gagal ginjal kronik.
e.       Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang diberikn pada klien dengan gagal ginjal kronik.


BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.    Konsep Dasar
  Definisi Sistem genitourinaria
Sistem perkemihan atau sistem genitourinaria adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih) ( siswanto, 2010).
Urinaria adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh (Drs. H. Syaifuddin, B. Ac).
Sistem urinaria terdiri atas ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Sistem ini membantu mempertahankan homeostatis dengan menghasilkan urin yang menghasilkan urin yang merupakan hasil sisa metabolisme ( soewolo, 2010).

1.      Definisi
Gagal ginjal merupakan perlembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat (biasanya berlangsung beberapa tahun) (Price dan Wilson, 2008).
Gagal ginjal kronis adalah kegagalan fungsi ginjal untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat destruksi struktur ginjal yang progresif dengan manifestasi penumpukan sisa metabolik (toksik uremik) di dalam darah (Muttaqin & Sari, 2011).
Gagal gijal kronik biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap. Penyebab termasuk glomerulonefritis, infeksi kronis, penyakit vesikuler (nefrosklerosis), proses abstruktif (kalkuli), penyakit kolagen (lupus sistemik), agen nefrotik (aminoglikosida), penyakit endokrin (diabetes). Berlanjutnya sindrom ini melalui tahap dan menghasilkan perubahan utama pada semua sistem tubuh (Doenges, 1999).
Dari beberapa pengertian gagal ginjal kronik di atas dapat di simpulkan bahwa gagal ginjal kronik adalah hilangnya fungsi ginjal secara bertahap untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit.

2.      Etiologi
     Kondisi klinis yang bisa menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronis. Apa pun sebabnya, respon yang terjadi adalah penurunan fungsi ginjal secara progresif. Kondisi klinis yang memungkinkan dapat mengakibatkan GGK biasa disebabkan dari ginjal sendiri dan di luar ginjal.
1.    Penyakit dari gagal ginjal
a.       Penyakit pada saringan (glomerulus): glomerulonefritis
b.      Infeksi kuman: pyelonefritis, ureteritis.
c.       Batu ginjal: nefrolitiasis
d.      Kista di ginjal: polcystis kidney
e.       Trauma langsung pada ginjal
f.       Keganasan pada ginjal
g.      Sumbatan: batu, tumor, penyempitan/striktur
2.    Penyakit umum diluar ginjal
a.       Penyakit sistemik: diabetes militus, hipertensi, kolesterol tinggi
b.      Dyslipidemia
c.       SLE
d.      Infeksi di badan: TBC paru, sifilis, malaria, hepatitis
e.       Preeklamasi
f.       Obat-obatan
g.      Kehilangan banyak cairan yang mendadak (luka memar)
(Muttaqin & Sari, 2011).
3.      Manifestasi Klinis
a.    Nyeri
Perenkim ginjal tidak mengandung ujung-ujung saraf yang sensitif terhadap nyeri. Nyeri pada penyakit ginjal ialah akibat dua mekanisme, yaitu :
1)      teregangnya fasia ginjal yang menimbulkan nyeri yang sulit dilokasikan didaerah pinggang dan,
2)      kontraksi otot ureter yang hebat berkaitan dengan obstruksi pada ureter, menimbulkan kolikulerter (sering salah disebut sebagai kolik ginjal).
b.    Gagal ginjal kronik (GGK)
            GGK ialah suatu sindrom yang terjadi akibat destruksi nefron yang progresif dan ireversibel, apapun penyebabnya. GGk terjadi bila jumlah nefron yang berfungsi tinggal 25% atau kurang. Keadaan ini merupakan hasil akhir semua penyakit gagal ginjal kronik. Manifestasi GGK sangat banyak dan mengenai praktis setiap organ tubuh,  antara lain ialah:

1)      Azotemia
Tes yang sensitif untuk menilai GGK ialah klirens kreatinin.
2)      Asidosis metabolik
Kegagalan mengekskresi ion hidrogen mengakibatkan akumulasi asam dalam darah (tubuh memproduksi asam berlebihan sewaktu metabolisme sel).
3)      Ketidak sanggupan  untuk mengkonsentrasikan urin.
Merupakan suatu manifestasi klinik awal GGK. Hal ini menyebabkan poliuria (curah urin bertambah), nokturia (kencing berlebihan malam hari) dan isostenuria (ekskresi urin dengan osmolalitas yang sama dengan plasma, berat jenis urin tidak bervariasi banyak dari 1,010.
4)      Hiperparatiroidisme sekunder dan osteodistrofi renal.
5)      Kelainan hematologik
Anemia normokrom normositik akibat berkurangnya produksi eritropoetin. Fungsi trombosit terganggu, sehingga ada kecenderungan perdarahan, antara lain sering ditemukan perdarahan gastrointestinal.
6)      Kelainan kardiovaskuler
GGK sering disertai hipertensi akibat retensi natrium dan air oleh ginjal. Pada GGK tingkat lanjut dapat terjadi perikarditis fibrinosa atau hemoragik akut yang sebabnya belum diketahui
7)      Ensefalopati
GGK sering berhubungan dengan kelainan fungsi otak, menyababkan gangguan pada tingkat kesadaran.
Perkembangan dari fungsi ginjal normal hingga GGK simtomatik melalui 4 tahap:
a)    Berkurangnya cadangan ginjal
Derajat filtrasi glomerulus (DFG) tingkat lebih kurang 50% dari normal. Penderita asimtomatik, kadar ureum dan kreatinin darah normal.
b)      Insufisiensi ginjal
DFG 20-50% dari normal. Terdapat azotemia poliuria, nokturia, anemia, dan hipertensi.
c)      Gagal ginjal
DFG kurang dari 20-25% dari normal. Gejala diatas ditambah edema, asidosis metabolik dan hipokalsemia.
d)     Penyakit ginjal tingkat akhir
DFG kurang dari 5% dari normal, merupakan uremia stadium terminal
(Nasar, Himawan &Marwoto, 2010).



4.      Patofisiologi
      Ada dua pendekatan teoritis yang biasanya diajukan untuk menjelaskan gangguan fungsi ginjal pada gagal ginjal kronik. Sudut  pandangan tradisional mengatakan bahwa semua unit nefron telah terserang penyakit namun dalam stadium yang berbeda-beda dan bagian yang spesifik dari nefron yang berkaitan dengan fungsi tertentu dapat saja benar-benar rusak atau berubah strukturnya. Misalnya, lesi organik pada medula akan merusak susunan anatomik dari lengkung Henle dan pasa rekta, atau kompa klorida pada pars asendens lengkung Henle yang akan mengganggu proses aliran balik pemukat dan aliran balik penukar. Pendekatan kedua dikenal dengan nama hipotesis Bricker atau hipotesis nefron yang utuh, yang berpendapat bahwa bila nefron terserang penyakit, maka seluruh unitnya akan hancur, namun sisa nefron yang masih utuh tetap bekerja normal uremia akan timbul bila mana jumlah nefron sudah sedemikian berkurang sehingga keseimbangan cairan dan elekrolit tidak dapat dipertahankan lagi. Hipotesis nefron yang utuh ini paling berguna untuk menjelaskan pola adaptasi fungsional pada penyakit ginjal progesif, yaitu kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan air dan elektrolit tubuh kendatipun ada penurunan GFR yang nyata.
      Urutan peristiwa fatofisiologi gagal ginjal frogresif dapat diuraikan dari segi hipotesis nefron yang utuh. Meskipun penyakit ginjal kronik terus berlanjut, namun jumlah solut yang harus diekskresi oleh ginjal untuk mempertahankan homeostasis tidaklah berubah. Kendati jumlah nefron yang bertugas melakukan fungsi tersebut sudah menurun secara progesif. Dua adaptasi penting dilakukan oleh ginjal sebagai respon terhadap ancaman ketidakseimbangan cairan dan elektrolik. Terjadi  peningkatan percepatan filtrasi, beban solut dan reabsorpsi tubulus dalam setiap nefron meskipun GFR untuk seluruh masa nefron yang terdapat dalam ginjal turun dibawah nilai normal. Mekanisme adaptasi ini cukup berhasil dalam mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh hingga tingkat fungsi ginjal yang sangat rendah. Fleksibilitas baik pada proses ekskresi maupun proses konsevasi solut dan air menjadi berkurang. Sedikit perubahan kepada diet dapat mengubah keseimbangan yang rawan tersebut, karena makin rendah GFR (yang berarti makin sedikin nefron yang ada) semakin besar perubahan percepatan ekskresi per nefron. Hilangnya kemampuan memekatkan atau mengencerkan kemih menyebabkan  berat jenis  kemih tetap pada nilai 1,010 atau 285 mOsmol (yaitu sama dengan konsentrasi plasma) dan merupakan penyebab gejala poliyuria dan nokturia sebagai contoh, seseorang dengan diet normal mengeekskresi solut sekitar 600 mOsmol perhari. Kalau orang itu tidak dapat lagi memekatkan kemihnya dari osmolalitas plasma normal sebesar 285 mOsmol, maka tanpa memandang banyaknya asupan air akan terdapat kehilangan obligatorik 2 liter air untuk eksresi solut 600 mOsmol (285 mOsmol/liter). Sebagai respon terhadap beban solut yang sama dan keadaan kekurangan cairan, orang normal dapat memekatkan kemih sampai empat kali lipat konsentrasi plasma dan dengan demikian hanya akan mengekskresi sedikit kemih yang pekat kalau GFR terus turun sampai ahirnya mencapai nol, maka semakin perlu mengatur asupan cairan dan solut secara tepat untuk mampu mengakomodasikan penurunan fleksibilitas fungsi ginjal.
     Hipotesis nefron yang utuh ini didukung oleh beberapa pengamatan eksperimental. Bricker dan Fine (1969) telah memperlihatkan bahwa pada penderita yang menderita pielonefritis dan pada anjing-anjing yang ginjalnya dirusak pada percobaan maka nefron yang masih bertahan akan mengalami hiportrofi dan menjadi lebih aktif dari keadaan normal. Juga diketahui bahwa bila satu ginjal seorang yang normal dibuang, maka ginjal yang tersisa akan mengalami hiportropi fungsi ginjal ini mendekati kemampuan yang sebelumnya dimiliki oleh kedua ginjal itu secara bersama-sama.
     Juga telah dibuktikan bahwa ginja normal dalam keadaan dimana beban solut meningkat akan bertindak sama seperti ginjal yang mengalami gagal ginjal progesif. Hal ini mendukung hipotesis nefron yang utuh. Kedua kurva mendekati berat jenis 1,010 sampai kemih menjadi isoosmotik dengan flasma pada 285 mOsmol sehingga terjadi berat jenis yang tetap.
     Keadaan percobaaan tersebut diatas dapat ditimbulkan pada seorang normal dengan memberikan monitol (suatu diuretik osmotik). Dalam keadaan ini setiap nefron yang normal mengalami diuresis osmotik disertai kehilangan air oflidatorik. Ginjal kehilangan fleksibilitasnya baik untuk memekatkan atau mengencerkan kemih dari osmolalitas plasma sebesar 285 mOsmol.
     Kejadian-kejadian yang serupa mungkin terjadi pada penderita gagal ginjal progesif. Penderita dengan sekitar 90% massa nefronnya rusak berada pada titik yang sama (pada grafik tersebut) seperti orang normal dengan beban solut 10 kali keadaan norma sepuluh% nefron sisanya dipaksa untuk mengekskersi 10 kali lipat beban solut normal, dan dengan demikian kehilangan fleksibilitasnya. Nefron-nefron tersebut tidak dapat mengkompensasi dengan tepat perubahan yang terjadi melalui reabsorpsi tubulus terhadap kelebihan atau kekurangan natrium atau air
(Price & Wilson, 1995)




5.      Pathway
Fungsi renal menurun,protein dalam darah,sumbatan aliran urien,
                                             Aliran darah keginjal menurun
GGK
 
Ketidak efektifan  Perfusi Jaringan Perifer
 
(Nanda, 2013).
 
 





























6.      Pemeriksaan penunjang
a.    Pemeriksaan laboratorium
1)        Laju Endap Darah: meninggi yang diperberat oleh adanya anemia, dan hipoalbuminemia.
2)        Ureum dan Kreatinin: meninggi, biasanya perbandingan antara ureum dan kreatinin kurang lebih 20:1. Perbandingan biasa meninggi oleh karena perdarahan saluran cerna, demam, luka bakar luas, pengobatan steroid, dan obstruksi saluran kemih. Perbandingan ini berkurang: ureum lebih kecil dari kreatinin, pada diet rendah protein, dan tes Klirens Kreatinin yang menurun.
3)        Hipernatremi: umumnya karena kelebihan cairan. Hiperkalemia: biasanya terjadi pada gagal ginjal lanjut bersama dengan menurunnya diuresis.
4)        Hipokalsemia dan hiperfosfatemia: terjadi karena berkurangnya sintesis vitamin D3 pada GGK.
b.    Pemeriksaan radiologi
                  Beberapa pemeriksaan radiologi yang bisa digunakan untuk mengetahui gangguan fungsi ginjal antara lain :
1)      Foto polos abdomen untuk menilai bentuk dan besar ginjal (adanya batu atau adanya suatu obstruksi). Dehidrasi akan memperburuk keadaan ginjal,oleh sebab itu penderita diharapkan tidak puasa.
2)      Intra Vena Pielografi (IVP) untk menilai sistem pelviokalises dan ureter. Pemeriksaan ini mempunyai resiko penurunan faal ginjal pada keadaan tertentu, misalnya :usia lanjut, diabetes melitus, dan nefropati asam urat.
3)      USG untuk menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginjal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi sistem pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih, dan prostat.
4)      Renogram untuk menilai fungsi ginjal kanan dan kiri, lokasi dari gangguan (vaskular, parenkim, ekskresi), serta sisa fungsi ginjal.
5)      EKG untuk melihat kemungkinan: hipertropi ventrikel kiri, tanda-tandaperikarditis,aritmia,gangguan elektrolit(hiperkalemia).
c.      Biopsi Ginjal
     Untuk mengdiagnosa kelainan ginjal dengan mengambil jaringan ginjal lalu di analisa. Biasanya biopsi dilakukan pada kasus golomerulonepritis, neprotik sindrom, penyakit ginjal bawaan, ARF, dan perencanaan transplansi ginjal (Muttaqin & Sari, 2011).

7.      Penatalaksanaan
Pada umumnya keadaan sudah sedemikian rupa sehingga etiologi tidak dapat diobati lagi. Usaha harus ditunjukan untuk mengurangi gejala, mencegah kerusakan/ pemburukan faal ginjal yang terdiri :
a.      Pengaturan minum
      Pengaturan minum dasarnya adalah memberikan cairan sedemikian rupa sehingga dicapai diurisis maksimal. Bila cairan tidak dapat diberikan peroral maka diberikan perparenteral. Pemberian yang berlebihan dapat menimbulkan penumpukan di dalam rongga badan dan dapat membahayakan seperti hipervolemia yang sangat sulit diatasi.
b. Pengendalian hipertensi
      Tekanan darah sedapat mmungkiin harus dikendalikan. Pendapat bahwa penurunan tekanan darah selalu memperburuk faal ginjal, tidak benar.
Dengan obat tertentu tekanan darah dapat diturunkan tanpa mengurangi faal ginjal, misalnya dengan betabloker, alpametildopa, pasodilator mengurangi intake garam dalam rangka ini harus hati-hati karane tidak semua renal failure disertai retensi Natrium.
c.       Pengendalian K dalam darah
                  Mengendalikan K dalam darah sangat penting dalam darah karena peninggian K dapat menimbulkan kematian mendadak.yang pertama harus diingat ialah jangan menimbulkan hiperkalemia karena tindakan kit sendiri seperti obat-obat, diet buah, dan lain-lain.Selain dengan pemeriksaan darah,hiperkalemia juga dapat di diagnosa dengan EEG, dan EKG. Bila terjadi hiperkalemia maka pengobatannya dengan mengurangi intake K, pemberian Na Bikarbonat, dan pemberian infus glukosa.
d.      Penanggulangan Anemia
                  Anemia merupakan masalah yang sulit di tanggulangi pada GGK. Usaha pertama harus ditunjukkan mengatasi faktor defisiensi, kemudian mencari apakah ada perdarahan yang mungkin dapat di atasi. Pengendalian gagal ginjal pada keseluruhan akan dapat meninggikan Hb. Transfusi darah hanya dapat diberikan bila ada indikasi yang kuat, misalnya ada insufisiensi koroner.
e.       Penanggulangan asidosis
                  Pada umumnya asidosis baru bergejala pada taraf lebih lanjut. Sebelum memberi pengobatan yang khusus faktor lain harus di atasi dulu khususnya dehidrasi.pemberian asam melalui makanan dan obat-obatan harus dihindari. Natrium bikarbonat dapat di berikan per oral atau parenteral. Pada permulaan 100 mEq natrium bikarbonat diberi intra vena perlahan-lahan. Kalau perlu di ulang. Hemodialisis dan dialisis peritonial  dapat juga mengatasi asidosis.
f.        Pengobatan dan pencegahan infeksi
                  Ginjal yang sakit lebih mudah mengalami infeksi dari pada biasanya. Klien GGK dapat didampingi pyelonefritis diatas penyakit dasarnya.Adanya pyelonefritis tentu memperburuk lagi faal ginjal. Obat-obat anti mikroba diberi bila ada bakteriuria dengan perhatian khusus karena banyak diantaran obat-obat yang toksik terhadap ginjal atau keluar melalui ginjal. Tindakan yang mempengaruhi saluran kencing seperti kateterisasi sedapat mungkin harus dihindarkan.Infeksi ditempat lain secara tidak langsung dapat pula menimbulkan permasalahan yang sama dan penguragan faal ginjal.
g.      Penguragan protein dalam makanan
                  Protein dalam makanan harus diatur. Pada dasarnya jumlah protein dalam makanan dikurangi, tetapi tindakan ini jauh lebih menolong juga bia protein tersebut dipilih.
Diet dengan rendah protein yang mengandung asam amino esensial, sangat menolong bahkan dapat digunakan pada klien GGK terminal untuk mengurangi jumlah dialisis.
h.      Pengobatan neuropati
                  Neuropati timbul pada keadaan yang lebih lanjut. Biasanya neuropati ini sukar diatasi dan merupakan salah satu indikasi untuk dialisis. Pada klien yang sudah dialisipun neuropati masih dapat timbul.
i.        Dialisis
                  Dasar dialisis adalah adanya darah yang mengalir dibatasi selaput semi permiabel dengan suatu cairan (cairan dialisis) yang dibuat sedemikian rupa sehingga komposisi elektrolitnya sama dengan darah normal. Dengan demikian diharapkan bahwa zat-zat yang tidak diinginkan dari dalam  darah akan berpindah ke cairan dialisis. Tindakan dialisis ada dua macam yaitu hemodialisis dan peritoneal dialisis yang merupakan tindakan pengganti faal ginjal sementara yaitu pengeluaran/sekresi, sedangkan fungsi endokrinnya tidak ditanggulangi.



J. Transplantasi
                  Dengan pencangkokan ginjal yang sehat kepembuluh darah klien GGK maka seluruh faal ginjal diganti oleh ginjal yang baru. Ginjal yang sesuai harus memenuhi beberapa persyaratan dan persyaratan yang utama adalah bahwa ginjal tersebut diambil dari orang/mayat yang ditinjau dari segi imunologik sama dengan klien. Pemulihan dari segi imunologik ini terutama dengan pemeriksaan HLA.







BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK DENGAN GANGGUAN
SISTEM GENITOURINARIA (GAGAL GINJAL KRONIK)
SECARA TEORITIS


B.     Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal Kronik
      Menurut Nursalam (2001) proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam paraktik keperawatan. Hal ini disebut sebagai suatu pendekatan problem-solving yang memerlukan ilmu, teknik dan keterampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien/keluarga. Proses keperawatan tersebut terdiri dari lima tahap antara lain :                                                                                                      
1.         Pengkajian
      Tahapan ini merupakan tahap awal dalam proses keperawatan dan merupakan basic dari tahapan berikutnya. Pengkajian dilakukan secara sistematis mulai dari pengumpulan data, identifikasi dan evaluasi status kesehatan klien.
     Dalam tahapan ini dilakukan pengumpulan data dengan cara anamnesa yang diperoleh dengan wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang status kesehatan klien. Data yang digumpulkan terdiri atas data dasar dan data fokos.
     Setelah pengumpulan data langkah berikutnya pengkajian adalah pengelompokan data terdiri atas data psiologis / biologis, data psiologis, social, dan spritual (PPNI, 1994).Pengelompokan data akan memudahkan perawat dalam menegakkan masalah keperawatan klien.
     Menurut Dongoes M.E, (1999) data dasar pengkajian klien dengan kasus gagal ginjal kronik adalah sebagai berikut :
a.   Aktivitas/ istirahat
Gejala : Kelelahan ekstrim, kelemahan, malaise
Tanda : Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak
b.   Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi lama atau berat, papiltas : nyeri dada (angina).
Tanda : Hipertensi : DJV, nadi kuat, edema jaringan umum, nadi lemah halus, hipotensi, ortostatik pucat: kulit coklat kehijauan, kuning.
c.    Integritas ego
Gejala  : Faktor stres ; seperti finansial, hubungan dansebagainya
Tanda : Perasaan tak berdaya, tak ada harapan dan kekuatan menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian
d.   Eliminasi
Gejala : Penurunan frekuensi urin, oliguri, anuria, abdomen kembung, diare atau konstipasi.
Tanda : Perubahan warna urine(kuning pekat, merah, coklat, berawan, oliguri, anuria)
e.    Makanan/ cairan
Gejala : Peningkatan berat badan (edema), penurunan berat badan anoreksia, nyeri ulu hati, mual, muntah, rasa tak sedap dimulut (pernapasan amonia)
Tanda : distensi abdomen/ asites, pembesaran hati ( tahap akhir) perubahan tutgor kulit/ kelembapan, edema, ulserasi gusi, perdarahan gusi/lidah, penurunan otot, lemah.
f.    Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, penglihatan kabur, kram/ kejang otot, kebas/ kesemutan dan kelemahan.
Tanda : Gangguan status mental (penurunan perhatian, tidak konsentrasi) Tanda chpostek dan trausseau positif, aktivitas kejang.
g.   Nyeri
Gejala : Nyeri panggul, sakit kepala ; kram otot kaki.
Tanda : Prilaku berhati-hati/ distraksi, gelisah.
h.   Pernapasan
Gejala : Napas pendek ; dispnea nokturnal paroksismal ; batuk dengan / tanpa sputum kental dan banyak.
Tanda : tachipnea, dipsnea, peningkatan frekuensi/ kedalaman (kusmaul), batuk produktif, dengan sputum merah muda-encer.
i.     Keamanan
Gejala : Kulit gatal, ada perulangan infeksi.
Tanda : Pruritus, demam(sepsis, dehidrasi), petekie, area kulit ekimosis, pruritus, kulit kering.
j.     Seksualitas
Gejala : penurunan libido : amenore, infertilitas
k.   Interaksi sosial
Gejala : Kesulitan menentukan kondisi dalam berhubungan.

2.    Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dari kelompok atau individu dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito, 2000).
      Menurut Nursalam (2001), dikutip dari Gordon (1976), mengatakan bahwa diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan potensial dimana berdasarkan pendidikan dan pengalaman dia mampu dan mempunyai kewenangan memberikan tindakan keperawatan.
      Menurut Nanda, (2013) diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan kasus gagal ginjal kronik adalah sebagai berikut :
a.       Nyeri kronik berhubungan dengan asam laktat naik.
b.      Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan sekret.
c.       Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya nafsu makan.
d.      Intoleran aktivitas berhubungan dengan keletihan.
e.       Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan suplai O2 turun.

3.    Perencanaan
            Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi dan mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan, dimana tahapan ini dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi (Nursalam, 2001).
     Tahapan dalam perencanaan ini meliputi : menentukan prioritas, menentukan kriteria hasil, menentukan rencana tindakan dan pendokumentasian (Nursalam, 2001).
      Terdapat tiga rencana tindakan dalam tahap rencana tindakan yaitu : rencana tindakan perawat, rencana tindakan pelimpahan (medis dan tim kesehatan lain) dan program atau perintah medis untuk klien yang dalam pelaksanaannya dibantu perawat (Carpenito, 2000).
      Ada beberapa komponen yng perlu diperhatikan dalam langkah-langkah penyusunan perencanaan yaitu : menentukan prioritas, menentukan kriteria hasil, mementukan rencana tindakan dan dokumentasi (Nursalam, 2001).
      Setelah penyusunan prioritas, langkah selanjutnya adalah penyusunan rencana tindakan.
Menurut Nanda, (2013) dan Dongoes M.E, (1999), berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul klien dengan gagal ginjal kronik ini, maka rencana keperawatan dapat dirumuskan sebagai berikut :
1)      Nyeri kronik berhubungan dengan asam laktat naik.
Tujuan : rasa nyeri teratasi (hilang) dengan skala 0
Evaluasi :
-        Melaporkan nyeri berkurang/terkontrol
-        Tampak rileks.
-        Mampu untuk tidur/istirahat dengan tepat.
Rencana tindakan :
Mandiri :
a)    Monitor TTV
Rasional : untuk menentukan tindakan selanjutnya.
b)   Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10) lamanya.
Rasional : memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan atau keefektifan intervensi.
c)    Berikan tindakan kenyamanan. contoh masase,membantu klien melakukan posisi yang nyaman, mendorong penggunaan relaksasi/latihan nafas dalam, aktivitas terapeutik.
Rasional: meningkat kan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
d)     Anjurkan klien untuk relaksasi nafas dalam.
Rasional : memberikan rasa ketenangan dan kenyamanan.
Kolaborasi :
a)      Berikan obat sesuai indikasi
(1)   Narkotik, contoh epiridin (Domerol)
Rasional : diberikan untuk menghilangkan nyeri berat, memberikan relaksasi mental dan fisik.
meningkatkan volume urine adekuat.

2)      Ketidak Efektifan Bersihan Jalan Nafas Berhubungan Dengan Penumpukan Sekret.
Tujuan : Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi napas bersih/jelas.
Evaluasi :
-        Menunjukkan prilaku untukmemperbaiki bersihan jalan nafas, misal : batuk efektif dan mengeluarkan sekret.
Rencana tindakan :
Mandiri :
a)      Monitor TTV
Rasional : untuk menentukan tindakan selanjunya.
b)      Kaji/pantau frekuensi pernapasan.
Rasional : Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
c)      Berikan posisi yang nyaman, misal : peninggian kepala tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur.
Rasional : Peninggian tempat tidur mempermudah fungsi pernapasan dengan menggunakan gravitasi.
d)     Ajarkan batuk efektif
Rasional : Mengeluarkan sekret.
Kolaborasi :
a)      Berikan obat sesuai dengan indikasi.
(1)     Analgesik, penekan batuk/antittusif, misal: kodein, produk dextrometorfan (Novaheksin).
Rasional : Batuk menetap yang melelahkan perlu ditekan untuk menghemat energi dan memungkinkan klien istirahat.

3)      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya nafsu makan.
Tujuan : mempertahankan berat badan ideal
Evaluasi :
-          Menunjukkan berat badan stabil/ideal
-          Tidak ada mal nutrisi
Rencana tindakan :
Mandiri :
a)      Monitor TTV
Rasional : untuk menentukan tindakan selanjutnya.
b)      Awasi konsumsi makanan/cairan dan hitung masukan kalori tiap hari.
Rasional : mengidentifikasi kekurangan nutrisi/kebutuhan terapi.
c)      Berikan makanan sedikit dan frekuensi sering
Rasional : porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan.
d)     Anjurkan klien untuk mempertahankan masukan makanan harian.
Rasional : untuk memenuhi keinginan individu dalam pembatasan yang di identifikasi.
Kolaborasi :
a)      Rujuk ke ahli gizi
Rasional : untuk program diit individu untuk memenuhi kebutuhan budaya/pola hidup meningkatkan kerja sama klien.
b)      Berikan obat sesuai indikasi dokter
(1)   Proklorperazin
Rasional : menurunkan stimulasi pada pusat muntah.

4)      Intoleran aktivitas berhubungan dengan keletihan
Tujuan : menyatakan pemahaman situasi/faktor risiko dan program pengobatan individu.
Evaluasi :
-          Menunjukkan tehnik/prilaku yang memampukan kembali melakukan aktivitas.
-          Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.
Rencana tindakan :
Mandiri :
a)      Monitor TTV
Rasional : untuk menentukan tindakan selanjutnya,
b)      Tingkatkan tirah baring/duduk
Rasional : meningkatkan istirahat dan ketenangan
c)      Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melalukan latihan rentang gerak sendi aktif/pasif
Rasional : tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan, karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
d)     Anjurkan untuk melakukan aktivitas hiburan yang tepat
Rasional : meningkatkan relaksasi
Kolaborasi :
a)      Berikan obat sesuai indikasi
(1)   Sedatif
Rasional : membantu dalam manajemen kebutuhan tidur.

5)      Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Ferifer Berhubungan Dengan Suplai O2 Turun.
Tujuan : menunjukan peningkatan ferfusi sesuai secara individual
Evaluasi :
-        Tak adanya sianosis
-        Kulit hangat
Rencana tindakan :
Mandiri :
a)    Monitor TTV
Rasional : untuk menentukan tindakan selanjutnya.
b)   Auskultasi frekuensi dan irama jantung
Rasional : gangguan irama berhubungan dengan hipoksemia, ketidakseimbangan elektrolit, dan peningkatan regangan jantung kanan
c)    Observasi suhu kulit/membran mukosa
Rasional : dapat menunjukan gangguan cairan darah sistemik atau  meunjukan vasokonstriksi ferifer (syok)
d)   Anjurkan unruk meninggikan kaki bila ditempat tidur
Rasional: tindakan ini dilakukan untuk menurunkan stasis vena dikaki dan pengumpulan darah pada vena pelvis untuk menurunkan resiko pembentukan trombus.
Kolaborasi :
a)      Berikan obat sesuai indikasi
(1)   Heparin (intermiten atau inus IV kontinu)
Rasional : hepain mencegah pembentukan trombus lebih lanjut dengan mencegah pemecahana bekuan.
4.    Pelaksanaan
                        Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (Nursalam, 2001).
            Tahap ini merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan, oleh karena itu pelaksanaannya dimulai setelah rencana tindakan dirumuskan dan mengacu pada rencana tindakan sesuai skala sangat urgen, urgen dan tidak urgen (non urgen).
            Dalam pelaksanaan tindakan ada tiga tahapan yang harus dilalui yaitu : Persiapan, perencanaan dan pendokumentasian.
Fase persiapan meliputi :
a.    Review antisipasi tindakan keperawatan.
b.   Menganalisa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.
c.    Mengetahui komp[likasi yang mungkin timbul.
d.   Persiapan alat( pesources).
e.    Persiapan lingkungan yang kondusif.
f.    Mengidentifikasi aspek hukum dan etik.
Fase intervensi, terdiri atas :
a.    Independen : tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk atau perintah dokter atau tim kesehatan lainnya.
b.   Interdependen : Tindakan perawat yang memerlukan kerja sama dengan kesehatan lain (gizi, dokkter, laboratorium dan lain-lain).
c.    Dependen : Berhubungan dengan tindakan medis atau menandakan dimana tidakkan medis dilaksanakan.
Fase dokumentasi
      Merupakan suatu catatan lengkap dan akurat dari tindakan yang telah dilaksanakan.
      Dalam pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan pada klien dengan gagal ginjal kronik perawat dapat berperan sebagai pelaksana keperawatan, pemberi support, pendidik, advokasi, konselor  dan pencatataan / penghimpun data.


5.    Evaluasi
                 Menurut  Griffit dan Christensen (2008), evaluasi adalah salah satu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematis pada status kesehatan klien.Sedangkan Ignatavicius dan Bayne (2009), mengatakan evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan,rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai.
Evaluasi terdiri atas 2 jenis, yaitu evaluasi Formatif dan evaluasi Sumatif. Evaluasi formatif disebut juga evaluasi proses, evaluasi jangka pendek atau evaluasi berjalan,dimana evaluasi dilakukan secepatnya setelah tindakan keperawatan dilakukan sampai tujuan tercapai. Sedangkan evaluasi sumatif ini disebut evaluasi hasil,evaluasi akhir,evaluasi jangka panjang. Evaluasi ini dilakukan pada akhir tindakan keperawatan paripurna dilakukan dan menjadi suatu metode dalam memonitor kualitas dan efisiensi tindakan yang diberikan.Bentuk evaluasi ini lazimnya menggunakan format  “SOAP”  (Nursalam,2001).
                Tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan umpan balik rencana keperawatan, nilai serta meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui hasil perbandingan melalui standar yang telah ditentukan sebelumnya.
                 Hasil dari evaluasi yang diharapkan dalam pemberian tindakan keperawatan melalui proses keperawatan pada klien dengan gagal ginjal kronik adalah mempertahankan berat badan ideal tanpa kelebihan cairan,  cedera tidak terjadi, meningkatkan tingkat mental seperti biasa, mempertankan integritas jaringan kulit, integritas membran mukosa tetap normal, memahami kondisi/proses penyakit, pengobatan dan perawatan.






BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sistem perkemihan pada lansia mengalami penurunan, ini disebabkan karena berkurangnya jumlah nefron yang dapat mempengaruhi keseimbangan cairan. Pada lansia dehidrasi dapat meningkat, khususnya jika lansia tersebut menganggap tidak penting  keseimbangan cairan pada tubuhnya. Lansia juga cenderung menderita komplikasi infeksi.  
Banyaknya perubahan fungsi organ pencernaan pada lansia menyebabkan timbulnya masalah yang berkaitan dengan sistem gastrointestinal pada lansia. Lansia juga mengalami penurunan selera makan, gangguan menelan, juga mengalami masalah gigi yang semakin meningkat bersamaan dengan bertambahnya usia.

B.   Saran
1.  Bagi perawat
Pada pengkajian diharapkan perawat benar-benar bisa melaksanakan secara tepat dan benar, sehinggga dalam menegakkan diagnosa bisa lebih akurat dan penangananya lebih cepat.
2.  Bagi pasien dan keluarga
diharapkan pasien dan keluarga dapat menerima anjuran selain terapi dan pengobatan serta menjaga keeimbangan aktivitas, diit, istirahat yang tepat selama dirawat.
3.  Bagi mahasiswa
Diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan mahasiswa sehingga mahasiswa lebih peka terhadap kebutuhan pasien, serta memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan teori yang didapatkan di perkuliahan.




REFERENSI

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC
Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC
Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC

Suyono, Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II. Jakarta.: Balai Penerbit FKUI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar