BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Keperawatan suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan, pelayanan berbentuk biopsiko, sosial,
spiritual, dan cultural yang ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat
baik yang sehat maupun yang sakit pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan
ilmu keperawatan berdasarkan kepada suatu teori yang sangat luas.
Kesehatan adalah salah satu upaya pembangunan
nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran dan kemauan untuk hidup sehat
yang setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal
(Nursalam, 2001).
Ginjal merupakan salah satu organ penting dalam
tubuh manusia. Fungsi ginjal yang terpenting adalah untuk mempertahankan
homeostasis biokimiawi yang normal didalam tubuh, hal ini dilakukan dengan cara
mengeksresikan zat-zat yang tidak diperlukan lagi melalu proses filtrasi
glomerulus, reabsorbsi dan sekresi tubulus.
Jika proses filtrasi glomerulus, reabsorbsi dan
sekresi tubulus dimana 75% nefron mengalami kerusakan maka, ginjal tidak mampu
lagi melaksanakan fungsinya secara penuh dalam membuang zat-zat racun dalam
tubuh seseorang sehingga terjadilah berbagai penyakit ginjal diantaranya gagal
ginjal kronik.
Gagal ginjal kronik (GGK) adalah gangguan fungsi
renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan
retensi uretra dan sampah netrogen lain dalam darah
(Brunner,
2010).
Penyakit ini disebabkan oleh glomerulonefritis
kronis, sumbatan pada traktus urunarius, diabetes militus, pielonefritis,
nefrotik toksit, nefrotik absorbsi. Sedangkan gejala yang ditimbulkan seperti
edema, sakit kepala, malaise anemia, nafsu makan menurun, ureum yang meningkat.
Gagal ginjal kronik merupakan gangguan fungsi renal yang frogresif dan irreversible
dimana kemampuan tubuh untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan
dan elektrolit sehingga terjadi uremia.
Indonesia peningkatan penderita penyakit ini mecapai
angka 20 % pusat data dan informasi perhimpunan rumah sakit seluruh indonesia
(PDPERSI) menyatakan jumlah gagal ginjal kronik diperkirakan sekitar 50 orang
per satu juta penduduk berdasar kan data dari indonesia renal tregistry, suatu
kegiatan registrasi dan perhimpunan nefrologi indonesiapada tahun 2008 jumlah
pasien hemodealisa (cuci darah) mencapai 2260 orang dari 2146 pada tahun 2007
(Roderick,
2009).
Realita lapangan menunjukan, betapa pemberian
pelayanan keperawatan dan pengobatan pada unit-unit rumah sakit belum memenuhi
standar yang diharapkan, terutama pada kasus klien dengan gagal ginjal kronik.
Dengan adanya kegiatan pembuatan makalah ilmiah ini akan mendorong tenaga
keperawatan berlebih-lebih penulis sendiri untuk memberikan pelayanan keperawatan
sesuai dengan nilai-nilai profesionalisme.
Penulis berharap askep ini dapat
memberikan kontribusi positif bagi progesifitas pelayanan keperawatan klien
dengan gagal ginjal kronik dan bagi masyarakat luas diharapkan akan lebih
mengetahui dan memahami penyakit gagal ginjal kronik sehingga penyakit ini
dapat diminimalkan insidennya, bahkan dieradikasi terutama dibumi kalimantan
barat.
Sulitnya klien dengan gagal ginjal kronik untuk
dapat sembuh secara optimal dan bila tidak ditangani dengan tepat akan mengakibatkan
kematian. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengangkat kasus ini
kedalam makalah askep. Penulisan
berkeyakinan ,masih banyak hal-hal yang harus diteliti dan dikembangkan
dalam dalam penanganan klien dengan gagal ginjal kronik, khususnya dalam
pemberian asuhan keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan.
B. Ruang Lingkup Penulisan
Mengingat luasnya permasalahan, maka penulis
membatasi hanya pada pembahasan “ Asuhan Keperawatan Teoritis dengan gangguan
sistem genitourinaria : Gagal Ginjal Kronik di Ruang.
C.
Tujuan
Penulisan
1. Tujuan
Umum
Untuk
mendapatkan pengalaman nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien
gagal ginjal kronik disamping itu juga dapat memberikan pengalaman secara nyata
dalam penulisan dan penyusunan asuhan keperawatan yang lazim digunakan.
2. Tujuan
Khusus
Dalam
melaksanakan asuhan keperawatan gagal ginjal kronik penulis mengharapkan dapat
melakukan asuhan keperawatan dengan tujuan berikut :
a. Memperoleh
gambaran dan melaksanakan pengkajian pada klien gagal ginjal kronik.
b. Dapat
menyusun diagnosa keperawatan dan memprioritaskan masalah klien gagal ginjal
kronik.
c. Membuat
rencana tindakan keperawatan gagal ginjal kronik.
d. Melaksanakan
tindakan keperawatan pada klien dengan
gagal ginjal kronik.
e. Mengevaluasi
hasil tindakan keperawatan yang diberikn pada klien dengan gagal ginjal kronik.
BAB
II
TINJAUAN
TEORITIS
A.
Konsep
Dasar
Definisi Sistem genitourinaria
Sistem perkemihan atau sistem
genitourinaria adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan
darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan
menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih)
( siswanto, 2010).
Urinaria adalah suatu sistem dimana terjadinya proses
penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan
oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh (Drs. H.
Syaifuddin, B. Ac).
Sistem urinaria terdiri atas ginjal,
ureter, kandung kemih, dan uretra. Sistem ini membantu mempertahankan
homeostatis dengan menghasilkan urin yang menghasilkan urin yang merupakan
hasil sisa metabolisme ( soewolo, 2010).
1.
Definisi
Gagal ginjal
merupakan perlembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat (biasanya
berlangsung beberapa tahun) (Price dan Wilson, 2008).
Gagal ginjal kronis adalah kegagalan fungsi ginjal
untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit
akibat destruksi struktur ginjal yang progresif dengan manifestasi penumpukan
sisa metabolik (toksik uremik) di dalam darah (Muttaqin & Sari, 2011).
Gagal gijal kronik biasanya akibat akhir dari
kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap. Penyebab termasuk
glomerulonefritis, infeksi kronis, penyakit vesikuler (nefrosklerosis), proses
abstruktif (kalkuli), penyakit kolagen (lupus sistemik), agen nefrotik
(aminoglikosida), penyakit endokrin (diabetes). Berlanjutnya sindrom ini
melalui tahap dan menghasilkan perubahan utama pada semua sistem tubuh
(Doenges, 1999).
Dari beberapa pengertian gagal ginjal kronik di atas
dapat di simpulkan bahwa gagal ginjal kronik adalah hilangnya fungsi ginjal
secara bertahap untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan
elektrolit.
2. Etiologi
Kondisi klinis yang bisa menyebabkan
terjadinya gagal ginjal kronis. Apa pun sebabnya, respon yang terjadi adalah
penurunan fungsi ginjal secara progresif. Kondisi klinis yang memungkinkan
dapat mengakibatkan GGK biasa disebabkan dari ginjal sendiri dan di luar
ginjal.
1.
Penyakit dari gagal ginjal
a.
Penyakit pada saringan (glomerulus):
glomerulonefritis
b.
Infeksi kuman: pyelonefritis,
ureteritis.
c.
Batu ginjal: nefrolitiasis
d.
Kista di ginjal: polcystis kidney
e.
Trauma langsung pada ginjal
f.
Keganasan pada ginjal
g.
Sumbatan: batu, tumor,
penyempitan/striktur
2.
Penyakit umum diluar ginjal
a.
Penyakit sistemik: diabetes militus,
hipertensi, kolesterol tinggi
b.
Dyslipidemia
c.
SLE
d.
Infeksi di badan: TBC paru, sifilis,
malaria, hepatitis
e.
Preeklamasi
f.
Obat-obatan
g.
Kehilangan banyak cairan yang mendadak
(luka memar)
(Muttaqin & Sari, 2011).
3. Manifestasi Klinis
a.
Nyeri
Perenkim
ginjal tidak mengandung ujung-ujung saraf yang sensitif terhadap nyeri. Nyeri
pada penyakit ginjal ialah akibat dua mekanisme, yaitu :
1)
teregangnya fasia ginjal yang
menimbulkan nyeri yang sulit dilokasikan didaerah pinggang dan,
2)
kontraksi otot ureter yang hebat
berkaitan dengan obstruksi pada ureter, menimbulkan kolikulerter (sering salah disebut sebagai kolik ginjal).
b.
Gagal ginjal kronik (GGK)
GGK ialah suatu sindrom yang terjadi
akibat destruksi nefron yang progresif dan ireversibel, apapun penyebabnya. GGk
terjadi bila jumlah nefron yang berfungsi tinggal 25% atau kurang. Keadaan ini
merupakan hasil akhir semua penyakit gagal ginjal kronik. Manifestasi GGK
sangat banyak dan mengenai praktis setiap organ tubuh, antara lain ialah:
1)
Azotemia
Tes
yang sensitif untuk menilai GGK ialah klirens kreatinin.
2)
Asidosis metabolik
Kegagalan
mengekskresi ion hidrogen mengakibatkan akumulasi asam dalam darah (tubuh
memproduksi asam berlebihan sewaktu metabolisme sel).
3)
Ketidak sanggupan untuk mengkonsentrasikan urin.
Merupakan
suatu manifestasi klinik awal GGK. Hal ini menyebabkan poliuria (curah urin
bertambah), nokturia (kencing berlebihan malam hari) dan isostenuria (ekskresi
urin dengan osmolalitas yang sama dengan plasma, berat jenis urin tidak
bervariasi banyak dari 1,010.
4)
Hiperparatiroidisme sekunder dan
osteodistrofi renal.
5)
Kelainan hematologik
Anemia
normokrom normositik akibat berkurangnya produksi eritropoetin. Fungsi
trombosit terganggu, sehingga ada kecenderungan perdarahan, antara lain sering
ditemukan perdarahan gastrointestinal.
6)
Kelainan kardiovaskuler
GGK
sering disertai hipertensi akibat retensi natrium dan air oleh ginjal. Pada GGK
tingkat lanjut dapat terjadi perikarditis fibrinosa atau hemoragik akut yang
sebabnya belum diketahui
7)
Ensefalopati
GGK
sering berhubungan dengan kelainan fungsi otak, menyababkan gangguan pada
tingkat kesadaran.
Perkembangan
dari fungsi ginjal normal hingga GGK simtomatik melalui 4 tahap:
a)
Berkurangnya cadangan ginjal
Derajat
filtrasi glomerulus (DFG) tingkat lebih kurang 50% dari normal. Penderita
asimtomatik, kadar ureum dan kreatinin darah normal.
b)
Insufisiensi ginjal
DFG
20-50% dari normal. Terdapat azotemia poliuria, nokturia, anemia, dan
hipertensi.
c)
Gagal ginjal
DFG
kurang dari 20-25% dari normal. Gejala diatas ditambah edema, asidosis
metabolik dan hipokalsemia.
d)
Penyakit ginjal tingkat akhir
DFG
kurang dari 5% dari normal, merupakan uremia stadium terminal
(Nasar,
Himawan &Marwoto, 2010).
4. Patofisiologi
Ada dua pendekatan teoritis yang biasanya
diajukan untuk menjelaskan gangguan fungsi ginjal pada gagal ginjal kronik.
Sudut pandangan tradisional mengatakan
bahwa semua unit nefron telah terserang penyakit namun dalam stadium yang
berbeda-beda dan bagian yang spesifik dari nefron yang berkaitan dengan fungsi
tertentu dapat saja benar-benar rusak atau berubah strukturnya. Misalnya, lesi
organik pada medula akan merusak susunan anatomik dari lengkung Henle dan pasa
rekta, atau kompa klorida pada pars asendens lengkung Henle yang akan
mengganggu proses aliran balik pemukat dan aliran balik penukar. Pendekatan
kedua dikenal dengan nama hipotesis Bricker atau hipotesis nefron yang utuh,
yang berpendapat bahwa bila nefron terserang penyakit, maka seluruh unitnya
akan hancur, namun sisa nefron yang masih utuh tetap bekerja normal uremia akan
timbul bila mana jumlah nefron sudah sedemikian berkurang sehingga keseimbangan
cairan dan elekrolit tidak dapat dipertahankan lagi. Hipotesis nefron yang utuh
ini paling berguna untuk menjelaskan pola adaptasi fungsional pada penyakit
ginjal progesif, yaitu kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan air dan
elektrolit tubuh kendatipun ada penurunan GFR yang nyata.
Urutan peristiwa fatofisiologi gagal
ginjal frogresif dapat diuraikan dari segi hipotesis nefron yang utuh. Meskipun
penyakit ginjal kronik terus berlanjut, namun jumlah solut yang harus
diekskresi oleh ginjal untuk mempertahankan homeostasis tidaklah berubah.
Kendati jumlah nefron yang bertugas melakukan fungsi tersebut sudah menurun
secara progesif. Dua adaptasi penting dilakukan oleh ginjal sebagai respon
terhadap ancaman ketidakseimbangan cairan dan elektrolik. Terjadi peningkatan percepatan filtrasi, beban solut
dan reabsorpsi tubulus dalam setiap nefron meskipun GFR untuk seluruh masa
nefron yang terdapat dalam ginjal turun dibawah nilai normal. Mekanisme
adaptasi ini cukup berhasil dalam mempertahankan keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh hingga tingkat fungsi ginjal yang sangat rendah. Fleksibilitas
baik pada proses ekskresi maupun proses konsevasi solut dan air menjadi
berkurang. Sedikit perubahan kepada diet dapat mengubah keseimbangan yang rawan
tersebut, karena makin rendah GFR (yang berarti makin sedikin nefron yang ada)
semakin besar perubahan percepatan ekskresi per nefron. Hilangnya kemampuan
memekatkan atau mengencerkan kemih menyebabkan
berat jenis kemih tetap pada
nilai 1,010 atau 285 mOsmol (yaitu sama dengan konsentrasi plasma) dan
merupakan penyebab gejala poliyuria dan nokturia sebagai contoh, seseorang
dengan diet normal mengeekskresi solut sekitar 600 mOsmol perhari. Kalau orang
itu tidak dapat lagi memekatkan kemihnya dari osmolalitas plasma normal sebesar
285 mOsmol, maka tanpa memandang banyaknya asupan air akan terdapat kehilangan
obligatorik 2 liter air untuk eksresi solut 600 mOsmol (285 mOsmol/liter).
Sebagai respon terhadap beban solut yang sama dan keadaan kekurangan cairan,
orang normal dapat memekatkan kemih sampai empat kali lipat konsentrasi plasma
dan dengan demikian hanya akan mengekskresi sedikit kemih yang pekat kalau GFR
terus turun sampai ahirnya mencapai nol, maka semakin perlu mengatur asupan
cairan dan solut secara tepat untuk mampu mengakomodasikan penurunan
fleksibilitas fungsi ginjal.
Hipotesis nefron yang utuh ini didukung
oleh beberapa pengamatan eksperimental. Bricker dan Fine (1969) telah
memperlihatkan bahwa pada penderita yang menderita pielonefritis dan pada
anjing-anjing yang ginjalnya dirusak pada percobaan maka nefron yang masih
bertahan akan mengalami hiportrofi dan menjadi lebih aktif dari keadaan normal.
Juga diketahui bahwa bila satu ginjal seorang yang normal dibuang, maka ginjal
yang tersisa akan mengalami hiportropi fungsi ginjal ini mendekati kemampuan
yang sebelumnya dimiliki oleh kedua ginjal itu secara bersama-sama.
Juga telah dibuktikan bahwa ginja normal
dalam keadaan dimana beban solut meningkat akan bertindak sama seperti ginjal
yang mengalami gagal ginjal progesif. Hal ini mendukung hipotesis nefron yang
utuh. Kedua kurva mendekati berat jenis 1,010 sampai kemih menjadi isoosmotik
dengan flasma pada 285 mOsmol sehingga terjadi berat jenis yang tetap.
Keadaan percobaaan tersebut diatas dapat
ditimbulkan pada seorang normal dengan memberikan monitol (suatu diuretik
osmotik). Dalam keadaan ini setiap nefron yang normal mengalami diuresis
osmotik disertai kehilangan air oflidatorik. Ginjal kehilangan fleksibilitasnya
baik untuk memekatkan atau mengencerkan kemih dari osmolalitas plasma sebesar
285 mOsmol.
Kejadian-kejadian yang serupa mungkin
terjadi pada penderita gagal ginjal progesif. Penderita dengan sekitar 90%
massa nefronnya rusak berada pada titik yang sama (pada grafik tersebut)
seperti orang normal dengan beban solut 10 kali keadaan norma sepuluh% nefron
sisanya dipaksa untuk mengekskersi 10 kali lipat beban solut normal, dan dengan
demikian kehilangan fleksibilitasnya. Nefron-nefron tersebut tidak dapat
mengkompensasi dengan tepat perubahan yang terjadi melalui reabsorpsi tubulus
terhadap kelebihan atau kekurangan natrium atau air
(Price
& Wilson, 1995)
5. Pathway
Fungsi
renal menurun,protein dalam darah,sumbatan aliran urien,
Aliran
darah keginjal menurun
![]() |
||||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||
6. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
1)
Laju Endap Darah: meninggi yang
diperberat oleh adanya anemia, dan hipoalbuminemia.
2)
Ureum dan Kreatinin: meninggi,
biasanya perbandingan antara ureum dan kreatinin kurang lebih 20:1.
Perbandingan biasa meninggi oleh karena perdarahan saluran cerna, demam, luka
bakar luas, pengobatan steroid, dan obstruksi saluran kemih. Perbandingan ini berkurang:
ureum lebih kecil dari kreatinin, pada diet rendah protein, dan tes Klirens
Kreatinin yang menurun.
3)
Hipernatremi: umumnya karena
kelebihan cairan. Hiperkalemia: biasanya terjadi pada gagal ginjal lanjut
bersama dengan menurunnya diuresis.
4)
Hipokalsemia dan hiperfosfatemia:
terjadi karena berkurangnya sintesis vitamin D3 pada GGK.
b.
Pemeriksaan
radiologi
Beberapa pemeriksaan radiologi yang bisa
digunakan untuk mengetahui gangguan fungsi ginjal antara lain :
1)
Foto polos abdomen untuk menilai bentuk
dan besar ginjal (adanya batu atau adanya suatu obstruksi). Dehidrasi akan
memperburuk keadaan ginjal,oleh sebab itu penderita diharapkan tidak puasa.
2)
Intra Vena Pielografi (IVP) untk menilai
sistem pelviokalises dan ureter. Pemeriksaan ini mempunyai resiko penurunan
faal ginjal pada keadaan tertentu, misalnya :usia lanjut, diabetes melitus, dan
nefropati asam urat.
3)
USG untuk menilai besar dan bentuk
ginjal, tebal parenkim ginjal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi sistem
pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih, dan prostat.
4)
Renogram untuk menilai fungsi ginjal
kanan dan kiri, lokasi dari gangguan (vaskular, parenkim, ekskresi), serta sisa
fungsi ginjal.
5)
EKG untuk melihat kemungkinan:
hipertropi ventrikel kiri, tanda-tandaperikarditis,aritmia,gangguan
elektrolit(hiperkalemia).
c.
Biopsi
Ginjal
Untuk
mengdiagnosa kelainan ginjal dengan mengambil jaringan ginjal lalu di analisa.
Biasanya biopsi dilakukan pada kasus golomerulonepritis, neprotik sindrom,
penyakit ginjal bawaan, ARF, dan perencanaan transplansi ginjal (Muttaqin &
Sari, 2011).
7. Penatalaksanaan
Pada
umumnya keadaan sudah sedemikian rupa sehingga etiologi tidak dapat diobati
lagi. Usaha harus ditunjukan untuk mengurangi gejala, mencegah kerusakan/
pemburukan faal ginjal yang terdiri :
a. Pengaturan minum
Pengaturan minum dasarnya adalah
memberikan cairan sedemikian rupa sehingga dicapai diurisis maksimal. Bila
cairan tidak dapat diberikan peroral maka diberikan perparenteral. Pemberian
yang berlebihan dapat menimbulkan penumpukan di dalam rongga badan dan dapat
membahayakan seperti hipervolemia yang sangat sulit diatasi.
b. Pengendalian hipertensi
Tekanan darah sedapat mmungkiin harus
dikendalikan. Pendapat bahwa penurunan tekanan darah selalu memperburuk faal
ginjal, tidak benar.
Dengan
obat tertentu tekanan darah dapat diturunkan tanpa mengurangi faal ginjal,
misalnya dengan betabloker, alpametildopa, pasodilator mengurangi intake garam
dalam rangka ini harus hati-hati karane tidak semua renal failure disertai
retensi Natrium.
c. Pengendalian K dalam darah
Mengendalikan K dalam darah sangat penting dalam darah karena peninggian
K dapat menimbulkan kematian mendadak.yang pertama harus diingat ialah jangan
menimbulkan hiperkalemia karena tindakan kit sendiri seperti obat-obat, diet
buah, dan lain-lain.Selain dengan pemeriksaan darah,hiperkalemia juga dapat di
diagnosa dengan EEG, dan EKG. Bila terjadi hiperkalemia maka pengobatannya
dengan mengurangi intake K, pemberian Na Bikarbonat, dan pemberian infus
glukosa.
d. Penanggulangan Anemia
Anemia merupakan masalah yang sulit di tanggulangi pada GGK. Usaha
pertama harus ditunjukkan mengatasi faktor defisiensi, kemudian mencari apakah
ada perdarahan yang mungkin dapat di atasi. Pengendalian gagal ginjal pada
keseluruhan akan dapat meninggikan Hb. Transfusi darah hanya dapat diberikan
bila ada indikasi yang kuat, misalnya ada insufisiensi koroner.
e. Penanggulangan asidosis
Pada umumnya asidosis baru bergejala pada taraf lebih lanjut. Sebelum
memberi pengobatan yang khusus faktor lain harus di atasi dulu khususnya
dehidrasi.pemberian asam melalui makanan dan obat-obatan harus dihindari.
Natrium bikarbonat dapat di berikan per oral atau parenteral. Pada permulaan
100 mEq natrium bikarbonat diberi intra vena perlahan-lahan. Kalau perlu di
ulang. Hemodialisis dan dialisis peritonial
dapat juga mengatasi asidosis.
f.
Pengobatan
dan pencegahan infeksi
Ginjal yang sakit lebih mudah mengalami infeksi dari pada biasanya.
Klien GGK dapat didampingi pyelonefritis diatas penyakit dasarnya.Adanya
pyelonefritis tentu memperburuk lagi faal ginjal. Obat-obat anti mikroba diberi
bila ada bakteriuria dengan perhatian khusus karena banyak diantaran obat-obat
yang toksik terhadap ginjal atau keluar melalui ginjal. Tindakan yang
mempengaruhi saluran kencing seperti kateterisasi sedapat mungkin harus
dihindarkan.Infeksi ditempat lain secara tidak langsung dapat pula menimbulkan
permasalahan yang sama dan penguragan faal ginjal.
g. Penguragan protein dalam makanan
Protein dalam makanan harus diatur. Pada dasarnya jumlah protein dalam
makanan dikurangi, tetapi tindakan ini jauh lebih menolong juga bia protein tersebut
dipilih.
Diet
dengan rendah protein yang mengandung asam amino esensial, sangat menolong
bahkan dapat digunakan pada klien GGK terminal untuk mengurangi jumlah
dialisis.
h. Pengobatan neuropati
Neuropati timbul pada keadaan yang lebih lanjut. Biasanya neuropati ini
sukar diatasi dan merupakan salah satu indikasi untuk dialisis. Pada klien yang
sudah dialisipun neuropati masih dapat timbul.
i.
Dialisis
Dasar dialisis adalah adanya darah yang mengalir dibatasi selaput semi
permiabel dengan suatu cairan (cairan dialisis) yang dibuat sedemikian rupa
sehingga komposisi elektrolitnya sama dengan darah normal. Dengan demikian
diharapkan bahwa zat-zat yang tidak diinginkan dari dalam darah akan berpindah ke cairan dialisis.
Tindakan dialisis ada dua macam yaitu hemodialisis dan peritoneal dialisis yang
merupakan tindakan pengganti faal ginjal sementara yaitu pengeluaran/sekresi,
sedangkan fungsi endokrinnya tidak ditanggulangi.
J.
Transplantasi
Dengan pencangkokan ginjal yang sehat kepembuluh darah klien GGK maka
seluruh faal ginjal diganti oleh ginjal yang baru. Ginjal yang sesuai harus memenuhi beberapa persyaratan dan persyaratan yang utama adalah
bahwa ginjal tersebut diambil dari orang/mayat yang ditinjau dari segi
imunologik sama dengan klien. Pemulihan dari segi imunologik ini terutama
dengan pemeriksaan HLA.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK DENGAN
GANGGUAN
SISTEM GENITOURINARIA (GAGAL GINJAL
KRONIK)
SECARA TEORITIS
B.
Asuhan
Keperawatan Gagal Ginjal Kronik
Menurut
Nursalam (2001) proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan
dalam paraktik keperawatan. Hal ini disebut sebagai suatu pendekatan
problem-solving yang memerlukan ilmu, teknik dan keterampilan interpersonal dan
ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien/keluarga. Proses keperawatan tersebut
terdiri dari lima tahap antara lain :
1.
Pengkajian
Tahapan ini merupakan tahap awal dalam
proses keperawatan dan merupakan basic dari tahapan berikutnya. Pengkajian
dilakukan secara sistematis mulai dari pengumpulan data, identifikasi dan
evaluasi status kesehatan klien.
Dalam tahapan ini dilakukan pengumpulan
data dengan cara anamnesa yang diperoleh dengan wawancara, observasi,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang status kesehatan klien. Data yang
digumpulkan terdiri atas data dasar dan data fokos.
Setelah pengumpulan data langkah berikutnya
pengkajian adalah pengelompokan data terdiri atas data psiologis / biologis,
data psiologis, social, dan spritual (PPNI, 1994).Pengelompokan data akan
memudahkan perawat dalam menegakkan masalah keperawatan klien.
Menurut Dongoes M.E, (1999) data dasar
pengkajian klien dengan kasus gagal ginjal kronik adalah sebagai berikut :
a. Aktivitas/ istirahat
Gejala
: Kelelahan ekstrim, kelemahan, malaise
Tanda
: Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak
b.
Sirkulasi
Gejala
: Riwayat hipertensi lama atau berat, papiltas : nyeri dada (angina).
Tanda
: Hipertensi : DJV, nadi kuat, edema jaringan umum, nadi lemah halus,
hipotensi, ortostatik pucat: kulit coklat kehijauan, kuning.
c.
Integritas
ego
Gejala : Faktor stres ; seperti finansial, hubungan dansebagainya
Tanda : Perasaan tak berdaya, tak ada harapan dan
kekuatan menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan
kepribadian
d.
Eliminasi
Gejala
: Penurunan frekuensi urin, oliguri, anuria, abdomen kembung, diare atau
konstipasi.
Tanda
: Perubahan warna urine(kuning pekat, merah, coklat, berawan, oliguri, anuria)
e.
Makanan/
cairan
Gejala
: Peningkatan berat badan (edema), penurunan berat badan anoreksia, nyeri ulu
hati, mual, muntah, rasa tak sedap dimulut (pernapasan amonia)
Tanda
: distensi abdomen/ asites, pembesaran hati ( tahap akhir) perubahan tutgor
kulit/ kelembapan, edema, ulserasi gusi, perdarahan gusi/lidah, penurunan otot,
lemah.
f.
Neurosensori
Gejala
: Sakit kepala, penglihatan kabur, kram/ kejang otot, kebas/ kesemutan dan
kelemahan.
Tanda
: Gangguan status mental (penurunan perhatian, tidak konsentrasi) Tanda
chpostek dan trausseau positif, aktivitas kejang.
g.
Nyeri
Gejala
: Nyeri panggul, sakit kepala ; kram otot kaki.
Tanda
: Prilaku berhati-hati/ distraksi, gelisah.
h.
Pernapasan
Gejala
: Napas pendek ; dispnea nokturnal paroksismal ; batuk dengan / tanpa sputum
kental dan banyak.
Tanda
: tachipnea, dipsnea, peningkatan frekuensi/ kedalaman (kusmaul), batuk
produktif, dengan sputum merah muda-encer.
i.
Keamanan
Gejala
: Kulit gatal, ada perulangan infeksi.
Tanda
: Pruritus, demam(sepsis, dehidrasi), petekie, area kulit ekimosis, pruritus,
kulit kering.
j.
Seksualitas
Gejala
: penurunan libido : amenore, infertilitas
k.
Interaksi
sosial
Gejala
: Kesulitan menentukan kondisi dalam berhubungan.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang
menjelaskan respon manusia dari kelompok atau individu dimana perawat secara
akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti
untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah
(Carpenito, 2000).
Menurut
Nursalam (2001), dikutip dari Gordon (1976), mengatakan bahwa diagnosa
keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan potensial dimana berdasarkan
pendidikan dan pengalaman dia mampu dan mempunyai kewenangan memberikan
tindakan keperawatan.
Menurut
Nanda, (2013) diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan kasus
gagal ginjal kronik adalah sebagai berikut :
a. Nyeri
kronik berhubungan dengan asam laktat naik.
b. Ketidak
efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan sekret.
c. Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya nafsu makan.
d. Intoleran
aktivitas berhubungan dengan keletihan.
e. Ketidakefektifan
perfusi jaringan perifer berhubungan dengan suplai O2
turun.
3. Perencanaan
Perencanaan
meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi dan mengoreksi
masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan, dimana tahapan
ini dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana
dokumentasi (Nursalam, 2001).
Tahapan
dalam perencanaan ini meliputi : menentukan prioritas, menentukan kriteria
hasil, menentukan rencana tindakan dan pendokumentasian (Nursalam, 2001).
Terdapat
tiga rencana tindakan dalam tahap rencana tindakan yaitu : rencana tindakan perawat,
rencana tindakan pelimpahan (medis dan tim kesehatan lain) dan program atau
perintah medis untuk klien yang dalam pelaksanaannya dibantu perawat
(Carpenito, 2000).
Ada
beberapa komponen yng perlu diperhatikan dalam langkah-langkah penyusunan perencanaan
yaitu : menentukan prioritas, menentukan kriteria hasil, mementukan rencana
tindakan dan dokumentasi (Nursalam, 2001).
Setelah penyusunan prioritas, langkah
selanjutnya adalah penyusunan rencana tindakan.
Menurut Nanda, (2013) dan Dongoes M.E, (1999),
berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul klien dengan gagal ginjal kronik
ini, maka rencana keperawatan dapat dirumuskan sebagai berikut :
1) Nyeri kronik berhubungan dengan
asam laktat naik.
Tujuan :
rasa nyeri teratasi (hilang) dengan skala 0
Evaluasi :
-
Melaporkan nyeri berkurang/terkontrol
-
Tampak rileks.
-
Mampu untuk tidur/istirahat dengan
tepat.
Rencana
tindakan :
Mandiri
:
a)
Monitor TTV
Rasional : untuk
menentukan tindakan selanjutnya.
b) Kaji
nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10) lamanya.
Rasional :
memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan atau keefektifan
intervensi.
c)
Berikan tindakan kenyamanan. contoh
masase,membantu klien melakukan posisi yang nyaman, mendorong penggunaan
relaksasi/latihan nafas dalam, aktivitas terapeutik.
Rasional:
meningkat kan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan
kemampuan koping.
d)
Anjurkan klien untuk relaksasi nafas
dalam.
Rasional :
memberikan rasa ketenangan dan kenyamanan.
Kolaborasi
:
a)
Berikan obat sesuai indikasi
(1)
Narkotik, contoh epiridin (Domerol)
Rasional :
diberikan untuk menghilangkan nyeri berat, memberikan relaksasi mental dan
fisik.
meningkatkan
volume urine adekuat.
2) Ketidak Efektifan Bersihan Jalan
Nafas Berhubungan Dengan Penumpukan Sekret.
Tujuan
:
Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi napas bersih/jelas.
Evaluasi
:
-
Menunjukkan prilaku untukmemperbaiki
bersihan jalan nafas, misal : batuk efektif dan mengeluarkan sekret.
Rencana
tindakan :
Mandiri
:
a)
Monitor TTV
Rasional : untuk
menentukan tindakan selanjunya.
b)
Kaji/pantau frekuensi pernapasan.
Rasional : Pernafasan
dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
c)
Berikan posisi yang nyaman, misal :
peninggian kepala tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur.
Rasional :
Peninggian tempat tidur mempermudah fungsi pernapasan dengan menggunakan
gravitasi.
d)
Ajarkan batuk efektif
Rasional : Mengeluarkan
sekret.
Kolaborasi
:
a)
Berikan obat sesuai dengan indikasi.
(1)
Analgesik, penekan batuk/antittusif,
misal: kodein, produk dextrometorfan (Novaheksin).
Rasional : Batuk
menetap yang melelahkan perlu ditekan untuk menghemat energi dan memungkinkan
klien istirahat.
3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya nafsu makan.
Tujuan
:
mempertahankan berat badan ideal
Evaluasi
:
-
Menunjukkan berat badan stabil/ideal
-
Tidak ada mal nutrisi
Rencana
tindakan :
Mandiri
:
a)
Monitor TTV
Rasional : untuk
menentukan tindakan selanjutnya.
b)
Awasi konsumsi makanan/cairan dan hitung
masukan kalori tiap hari.
Rasional :
mengidentifikasi kekurangan nutrisi/kebutuhan terapi.
c)
Berikan makanan sedikit dan frekuensi
sering
Rasional : porsi
lebih kecil dapat meningkatkan masukan.
d)
Anjurkan klien untuk mempertahankan
masukan makanan harian.
Rasional : untuk
memenuhi keinginan individu dalam pembatasan yang di identifikasi.
Kolaborasi
:
a)
Rujuk ke ahli gizi
Rasional : untuk
program diit individu untuk memenuhi kebutuhan budaya/pola hidup meningkatkan
kerja sama klien.
b)
Berikan obat sesuai indikasi dokter
(1)
Proklorperazin
Rasional :
menurunkan stimulasi pada pusat muntah.
4) Intoleran aktivitas berhubungan
dengan keletihan
Tujuan
:
menyatakan pemahaman situasi/faktor risiko dan program pengobatan individu.
Evaluasi
:
-
Menunjukkan tehnik/prilaku yang
memampukan kembali melakukan aktivitas.
-
Melaporkan kemampuan melakukan
peningkatan toleransi aktivitas.
Rencana
tindakan :
Mandiri
:
a)
Monitor TTV
Rasional : untuk
menentukan tindakan selanjutnya,
b)
Tingkatkan tirah baring/duduk
Rasional :
meningkatkan istirahat dan ketenangan
c)
Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi,
bantu melalukan latihan rentang gerak sendi aktif/pasif
Rasional : tirah
baring lama dapat menurunkan kemampuan, karena keterbatasan aktivitas yang
mengganggu periode istirahat.
d)
Anjurkan untuk melakukan aktivitas hiburan
yang tepat
Rasional :
meningkatkan relaksasi
Kolaborasi
:
a)
Berikan obat sesuai indikasi
(1)
Sedatif
Rasional :
membantu dalam manajemen kebutuhan tidur.
5) Ketidakefektifan Perfusi Jaringan
Ferifer Berhubungan Dengan Suplai O2 Turun.
Tujuan :
menunjukan peningkatan ferfusi sesuai secara individual
Evaluasi :
-
Tak adanya sianosis
-
Kulit hangat
Rencana
tindakan :
Mandiri
:
a)
Monitor TTV
Rasional : untuk
menentukan tindakan selanjutnya.
b)
Auskultasi frekuensi dan irama jantung
Rasional : gangguan
irama berhubungan dengan hipoksemia, ketidakseimbangan elektrolit, dan
peningkatan regangan jantung kanan
c)
Observasi suhu kulit/membran mukosa
Rasional : dapat
menunjukan gangguan cairan darah sistemik atau
meunjukan vasokonstriksi ferifer (syok)
d)
Anjurkan unruk meninggikan kaki bila
ditempat tidur
Rasional: tindakan
ini dilakukan untuk menurunkan stasis vena dikaki dan pengumpulan darah pada
vena pelvis untuk menurunkan resiko pembentukan trombus.
Kolaborasi
:
a) Berikan
obat sesuai indikasi
(1)
Heparin (intermiten atau inus IV kontinu)
Rasional : hepain
mencegah pembentukan trombus lebih lanjut dengan mencegah pemecahana bekuan.
4.
Pelaksanaan
Pelaksanaan
tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik (Nursalam, 2001).
Tahap ini merupakan tahap keempat
dalam proses keperawatan, oleh karena itu pelaksanaannya dimulai setelah
rencana tindakan dirumuskan dan mengacu pada rencana tindakan sesuai skala
sangat urgen, urgen dan tidak urgen (non urgen).
Dalam pelaksanaan tindakan ada tiga
tahapan yang harus dilalui yaitu : Persiapan, perencanaan dan pendokumentasian.
Fase persiapan
meliputi :
a.
Review antisipasi tindakan keperawatan.
b.
Menganalisa pengetahuan dan keterampilan
yang diperlukan.
c.
Mengetahui komp[likasi yang mungkin
timbul.
d.
Persiapan alat( pesources).
e.
Persiapan lingkungan yang kondusif.
f.
Mengidentifikasi aspek hukum dan etik.
Fase
intervensi, terdiri atas :
a.
Independen : tindakan yang dilakukan
oleh perawat tanpa petunjuk atau perintah dokter atau tim kesehatan lainnya.
b.
Interdependen : Tindakan perawat yang
memerlukan kerja sama dengan kesehatan lain (gizi, dokkter, laboratorium dan
lain-lain).
c.
Dependen : Berhubungan dengan tindakan
medis atau menandakan dimana tidakkan medis dilaksanakan.
Fase dokumentasi
Merupakan suatu catatan lengkap dan akurat dari tindakan yang telah
dilaksanakan.
Dalam
pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan pada klien dengan gagal ginjal kronik
perawat dapat berperan sebagai pelaksana keperawatan, pemberi support, pendidik,
advokasi, konselor dan pencatataan /
penghimpun data.
5. Evaluasi
Menurut Griffit dan Christensen (2008), evaluasi
adalah salah satu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematis pada
status kesehatan klien.Sedangkan Ignatavicius dan Bayne (2009), mengatakan
evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang
menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan,rencana tindakan dan
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai.
Evaluasi
terdiri atas 2 jenis, yaitu evaluasi Formatif dan evaluasi Sumatif. Evaluasi
formatif disebut juga evaluasi proses, evaluasi jangka pendek atau evaluasi
berjalan,dimana evaluasi dilakukan secepatnya setelah tindakan keperawatan
dilakukan sampai tujuan tercapai. Sedangkan evaluasi sumatif ini disebut evaluasi
hasil,evaluasi akhir,evaluasi jangka panjang. Evaluasi ini dilakukan pada akhir
tindakan keperawatan paripurna dilakukan dan menjadi suatu metode dalam
memonitor kualitas dan efisiensi tindakan yang diberikan.Bentuk evaluasi ini
lazimnya menggunakan format “SOAP” (Nursalam,2001).
Tujuan
evaluasi adalah untuk mendapatkan umpan balik rencana keperawatan, nilai serta
meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui hasil perbandingan melalui standar
yang telah ditentukan sebelumnya.
Hasil dari evaluasi yang diharapkan dalam
pemberian tindakan keperawatan melalui proses keperawatan pada klien dengan
gagal ginjal kronik adalah mempertahankan berat badan ideal tanpa kelebihan
cairan, cedera tidak terjadi, meningkatkan
tingkat mental seperti biasa, mempertankan integritas jaringan kulit,
integritas membran mukosa tetap normal, memahami kondisi/proses penyakit,
pengobatan dan perawatan.
BAB
IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sistem perkemihan pada lansia mengalami penurunan, ini disebabkan karena berkurangnya
jumlah nefron yang dapat mempengaruhi keseimbangan cairan. Pada lansia
dehidrasi dapat meningkat, khususnya jika lansia tersebut menganggap tidak
penting keseimbangan cairan pada tubuhnya. Lansia juga cenderung
menderita komplikasi infeksi.
Banyaknya perubahan fungsi organ pencernaan pada lansia menyebabkan
timbulnya masalah yang berkaitan dengan sistem gastrointestinal pada lansia.
Lansia juga mengalami penurunan selera makan, gangguan menelan, juga mengalami
masalah gigi yang semakin meningkat bersamaan dengan bertambahnya usia.
B. Saran
1. Bagi perawat
Pada pengkajian diharapkan perawat benar-benar bisa
melaksanakan secara tepat dan benar, sehinggga dalam menegakkan diagnosa bisa
lebih akurat dan penangananya lebih cepat.
2. Bagi pasien dan keluarga
diharapkan pasien dan keluarga dapat menerima anjuran
selain terapi dan pengobatan serta menjaga keeimbangan aktivitas, diit,
istirahat yang tepat selama dirawat.
3. Bagi mahasiswa
Diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan mahasiswa
sehingga mahasiswa lebih peka terhadap kebutuhan pasien, serta memberikan
asuhan keperawatan yang sesuai dengan teori yang didapatkan di perkuliahan.
REFERENSI
Carpenito,
Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC
Doenges
E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk
Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC
Price,
Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis
Proses-proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC
Smeltzer,
Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC
Suyono,
Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II. Jakarta.:
Balai Penerbit FKUI







Tidak ada komentar:
Posting Komentar