Rabu, 25 Januari 2017

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ( TAK ) PERILAKU KEKERASAN

STIMULUS : dengan mengetahui respons terhadap RESIKO PERILAKU KEKERASAN

A.    latar belakang
Terapi Aktivitas Kelompok ( TAK ) stimulasi persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai stimulasi dan terkait dengan pengalaman dan kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok. Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesempatan persepsi alternative penyelesaian masalah
Gejala yang muncul pada klien yang mengalami gangguan jiwa akan menimbulkan permasalahan, baik bagi lingkungan maupun bagi klien itu sendiri.
                        Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan (Fitria, 2009).

B.     MASALAH KEPERAWATAN

Therapi aktivitas kelompok sosialisasi & stimulasi persepsi ditujukan pada klien dengan masalah keperawatan :
1.      Resiko Perilaku Kekerasan

C.     TUJUAN

1.   Tujuan Umum
Setelah mengikuti Terapi Aktivitas Kelompok klien mampu mengontrol resiko perilaku kekerasannya.

2.   Tujuan Khusus
a.   Klien dapat mengontrol resiko perilaku kekerasannya dengan menlakukan cara relaksasi napas dalam dan memukul bahan yang empuk ( bantal & guling ).

b.   Klien dapat mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan melakukan aktivitas terjadwal.
3.   Landasan Teori
Terapi aktivitas kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai relsi hubungan satu sama lain , safing terkait dan mengikuti norma ayang sama. Terapi aktivitas kelompok ( TAK ) merupakan terapi yang dilakukan atas kelompok penderita bersama-sama dengan berdiskusi satu sama lain yang di pimpin atau d arahkan oleh seseorang terapis.
Keutungan yang diperoleh individu melalui terapi aktivitas kelompok (TAK) adalah dukungan atau support, pendidikan, meningkatkan hubungan interpersonal, dan meningkatkan kemampuan memcahkan masalah halusinasi.
a.       Pengertian
        Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan (fitria, 2009).

        Perilaku kekerasan adalah adalah tingkah laku individu yang ditunjukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut ( Purba dkk, 2008).

        Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri, maupu orang lain (Yoseph, 2007).
        Depertemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2010, menyatakan jumlah penderita gangguan jiwa di indonesia mencapai 2,5 juta yang terdiri dari pasien Risiko Perilaku Kekerasan. Diperkirakan sekitar 60% menderita resiko kekerasan di indonesia (Wirnata, 2012).
b.      Etiologi
Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan status dan prestise yang tidak terpenuhi :
1.    Frustasi, sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.
2.    Hilangnya harga diri ; pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.
3.    Kebutuhan akan status dan prestise ; Manusia pada umumnya mempunyai keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya.

c.  Tanda dan Gejala
Keliat (2002) mengemukakan bahwa tanda -tanda marah adalah sebagai berikut :
1.    Emosi : tidak adekuat, tidak aman, rasa terganggu, marah (dendam), jengkel.
2.    Fisik : muka merah, pandangan tajam, nafas pendek, keringat, sakit fisik,
penyalahgunaan obat dan tekanan darah.

3.    Intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, meremehkan.
4.    Spiritual : kemahakuasaan, kebajikan/kebenaran diri, keraguan, tidak bermoral, kebejatan, kreativitas terhambat.
Sosial : menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan dan humor.
  1. PENGORGANISASIAN
    1. Tempat            : Ruang Enggang
Hari/tanggal    : Rabu, 05 April 2016
Waktu             : 09.3010.00 Wib

    1. Tim terapis
a)      Leader       : Rocky Ramadjaya
b)      Co leader   : Okvan Taulija dan Nurreza Saimawan
ü  Leader dan Co-Leader bertugas menganalisa dan mengobservasi pola-pola komunikasi dalam kelompok, membantu anggota kelompok untuk menyadari dinamisasi kelompok, menjadi motivator, membantu kelompok untuk menetapkan tujuan dan membuat peraturan. Pemimpin dan anggota kelompok mendiskusikan apa yang harus dilakukan selanjutnya, memotivasi kesatuan kelompok dan membantu kelompok untuk berkembang dan bergerak secara dinamis

c)      Observer    : Muryani Dewi
ü  Observer bertugas mencatat serta mengamati respon klien, jalannya aktivitas therapi, peserta yang aktif dan pasif dalam kelompok serta yang drop out (tidak dapat mengikuti kegiatan sampai selesai).





d)     Fasilitator 
Terapis 1
: Nursiah
: Novitasari
: Rizal Kurniawan
: Mislin Asmiarti
Terapis 2
: Minawati
: Puspita Dewi
: Rahmadina
: Suhaidi
Dokumentasi :
Rully Faturahman

ü  Fasilitator bertugas memberikan stimulus kepada anggota kelompok lain agar dapat mengikuti jalannya kegiatan dalam kelompok.

    1. Media
§  Musik
§  Name Tage
§  Balon
§  Bantal

E.       PERSIAPAN

  1. Analisa situasi meliputi : waktu pelaksanaan, jumlah perawat, pembagian tugas perawat, alat bantu yang dipakai dan persiapan ruangan.
  2. Proses Seleksi
a.       Berdasarkan observasi prilaku sehari-hari klien yang dikelola oleh perawat.
b.      Berdasarkan informasi dan diskusi mengenai prilaku klien sehari-hari serta kemungkinan dilakukan therapi kelompok pada klien tersebut dengan perawat ruangan

c.       Melakukan kontak pada klien untuk mengikuti aktivitas yang akan dilakukan
  1. Program antisipasi masalah
Suatu intervensi keperawatan yang dilakukan dalam mengantisipasi keadaan yang bersifat darurat atau emergensi yang dapat mempengaruhi proses pelaksanaan kegiatan therapi aktivitas kelompok.

F.        KEGIATAN

  1. Perkenalan
Kelompok perawat memperkenalkan identitas diri masing-masing dipimpin oleh Leader dan Co Leader menjelaskan peraturan kegiatan dalam kelompok.
  1. Kegiatan
ü  Fase Orientasi
a.  Salam Terupetik
”Selamat pagi, bapak-bapak, masih ingatkan dengan kami ?
b. Validasi
”Bagaimana perasaan bapak-bapak hari ini ?   
c. Kontrak
1)      Topik
”Seperti janji kami kemarin, bagaimana kalau hari ini kita akan melakukan kegiatan mengontrol latihan fisik dengan cara relaksasi nafas dalam dan memukul bantal kasur, dan apa saja keuntungan mengontrol latihan fisik tersebut ?”
2)  Tempat
Bapak-bapak bagaimana kalau di ruang ini kita melakukan latihan mengontrol fisik tersebut ?”
3)  Waktu
”Baiklah bapak-bapak bagaimana kalau kita melakukan kegiatan ini selama 30 menit ?“
ü  Fase Kerja SP 1
Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien
Coba saya lihat jadwal harian, saya mau melihat apa kegiatan bapak kemarin ! ya bagus sekali bapak sudah melakukan kegiatan yang telah bapak jadwalkan.
“Bapak, pagi hari ini apakah bapak masih merasa gaduh gelisah atau ingin memukul sesuatu” ?
“Jika bapak masih mengalami perasaan yang sama maka kami dari kelompok ingin melakukan Terapi Aktivitas Kelompok”.
“Maka kami akan mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam untuk membantu bapak meredam perasaan gaduh gelisah yang bapak alami sehingga bapak-bapak  merasa tenang”.
“Begini pak saya akan contohkan terlebih dahulu cara relaksasi nafas dalam dan bapak bisa ikuti cara yang saya contohkan ini.
Pertama bapak bisa tarik nafas dan dalam hitungan ketiga bapak hembuskan lewat hidung lakukan ini sebanyak 3 kali”.
“ coba bapak sekarang bisa tolong peragakan teknik relaksasi nafas dalam yang telah diajarkan “
’ Bagaimana bapak-bapak, apakah cara ini ingin di tambahkan ke jadwal kegiatan harian bapak-bapak ? ’
Bapak-bapak sudah bisa memperagakan teknik relaksasi nafas dalam? Bapak merasa tenang dan lega kan ?”
ü Fase Kerja SP2
“ Nah sekarang kami akan mengajarkan tentang cara mengontrol perilaku kekerasan dengan memukul bantal/guling”
“Begini pak caranya yaitu ambil bantal/guling yang empuk supaya bapak tidak cedera”
“ Disaat emosi bapak tidak terkontrol bapak bisa lampiaskan dengan memukul bantal/guling supaya bapak tidak mencederai orang lain”
“ Coba bapak sekarang bisa tolong peragakan “
Bagaimana bapak-bapak, apakah cara ini ingin di tambahkan ke jadwal kegiatan harian bapak-bapak ? ’
Bapak-bapak sudah bisa memperagakannya? Bapak merasa tenang dan lega kan ?”

ü  Fase Terminasi
1)      Evaluasi
1.      Respon subjektif
Bagaimana perasaan bapak-bapak, setelah melakukan teknik relaksasi nafas dalam dan memukul bantal/guling?”
2.      Respon objektif
”Yah bagus,  ternyata bapak mampu melakukan cara  tehnik relaksasi nafas dalam dan memukul bantal/guling.  Nah kemampuan ini dapat dilakukan juga di rumah setelah pulang ya pak ?.”

2)      Rencana Tindak Lanjut
” Kami harap, jika bapak-bapak mengalami perasaan marah dan gaduh gelisah, bapak bisa melakakan teknik cara yang telah kami ajarkan.
3)      Kontrak Yang Akan Datang
1)      Topik
“ Begini bapak setelah ini kami akan berbincang-bincang dengan bapak? ”
2)      Waktu
” Waktunya nanti sekitar jam 10.00 wib
3)      Tempat
” Di tempat yang sama di ruangan ini ya pak ?. Sampai jumpa ...?”
-          Terapi memperkenalkan diri ( nama dan nama panggilan ). Terapi meminta klien memperkenalkan nama dan nama panggilan secara berurutan, dimulai dari klien yang berada di sebelah kiri terapi, searah jarum jam.
-          Terapi menjelaskan bahwa TAK hari ini adalah sesi 1dan sesi 2 yaitu dengan cara mengontrol halusinasi dengan cara tarik napas dalam dan memukul bantal dan guling serta melakukan kegiatan terjadwal.
-          Terapi menjelaskan tujuan TAK untuk melakukan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh klien.
-          Terapi akan memutarkan sebuah lagu, klien di minta untuk mengoperkan balon keteman disamping nya searah jarum jam sampai music berhenti
-          Setelah music berhenti pada salah satu klien , terapi meminta klien untuk malakukan kegiatan yang di sukainya, saat terjadi halusinasi dan apa yang dilakukan jika mengalami peningkatan emosi yang memicu perilaku kekerasan
-          Terapi memperagakan cara menarik napas dalam dan memukul bantal serta melakukan kegiatan terjadwal seperti menyapu dan mengepel..
-          Terapi memberikan pujian setiap kali klien selesai melakukan kegiatan yang di sukainya serta memperagakan bagaimana cara menarik napas dalam dan memukul bantal serta melakukan kegiatan terjadwal serta meminta klien untuk bertepuk tangan pada saat klien bisa melakukannya dengan baik.
  1. Evaluasi
Setelah mengikuti kegiatan klien dipersilahkan untuk mengemukakan perasaan dan pendapatnya tentang kegiatannya.
  1. Terminasi/Penutup
Leader menjelaskan kembali tujuan dan manfaat kegiatan, klien menyebutkan kembali tujuan dan manfaat kegiatan.




G.      kriteria

    1. Criteria inkulsi :
-          Klien dengan Resiko Prilaku Kekerasan
-          Klien yang belum dapat mengontrol Resiko Prilaku Kekerasan
-          Klien yang mempunyai Resiko Perilaku Kekerasan
-          Klien yang kooperatif

    1. Criteria eksklusi :
-          Klien tidak mengalami Resiko Prilaku Kekerasan
-          Klien yang dapat mengontrol Resiko Prilaku Kekerasan
-          Klien dapat mengontrol Resiko Prilaku Kekerasan
-          Klien tampak kooperatif

H.       RENCANA PELAKSANAAN

  1. Kriteria klien yang mengikuti terapi TAK di ruang Enggang Rumah Sakit Jiwa.
a.       Klien Resiko Perilaku Kekerasan yang sudah mulai berinteraksi dengan beberapa klien lain.
b.      Klien yang sudah dapat mengontrol perasaan gaduh gelisah.
  1. Peserta : berjumlah 6 orang.
  2. Masalah Keperawatan
a.       Resiko prilaku kekerasan.
      Proses   Pelaksanaan
1)      Persiapan
-          Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu Resiko Perilaku kekerasan
-          Membuat kontrak dengan klien
-          Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

2). Orientasi
-          Memberi salam terapeutik: Kelompok perawat memperkenalkan diri, urutan ditunjuk oleh pembimbing untuk memulai menyebut nama, kemudian leader menjelaskan tujuan dan peraturan kegiatan dalam kelompok
-          Evaluasi / validasi: menanyakan perasaan klien saaat ini. Bila akan mengemukakan perasaannya klien diminta untuk lebih dulu menunjukkan tangannnya
-          Kontrak:
a.       menjelasakan aturan main:
a)      jika ada klien yang meninggalkan kelompok harus meminta izin kepada     perawat.
b)      Lama kegiatan 30 menit
c)      Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.


Sesi 1 dan sesi 2: TAK
Mengontrol Resiko Prilaku Kekerasan Dengan Melakukan Tehnik Relaksasi Napas Dalam dan Memukul Bantal Guling

a.       Kemampuan Verbal

No
Aspek Yang Dinilai
Nama Klien

Tn. Rego
Tn. Santo
Tn. Comen
Tn. Heri nugroho
Tn. Toni husen
Tn. Yanto

1
Menyebutkan apa itu tehnik Relaksasi nafas dalam dan memukul bantal

2
Menyebutkan bagaimana cara mempraktekannya

3
Menyebutkan fungsi melakukan kegiatan

4
Menyebutkan manfaat yang di dapat dalam melakukan kegiatan

Jumlah
4
4
4
4
4
4



b.      Kemampuan non verbal

No
Aspek yang dinilai
Nama Klien

Tn. Rego
Tn. Santo
Tn. Comen
Tn. Heri Nugroho
Tn. Toni Husen
Tn. Yanto

1
Kontak mata

2
Posis nyaman

3
Menggunakan bahasa tubuh
yang sesuai

4
Mengikuti kegiatan dari
awal sampai
akhir

Jumlah
4
4
4
4
4
4


Petunjuk :
1.      Dibawah judul nama klien, tulis nama panggilan klien yang ikut TAK.
2.      Untuk tiap klien, semua aspek dimulai dengan memberi tanda centang jika ditemukan pada klien atau tanda silang jika tidak ditemukan.
3.      Jumlah kemampuan yang ditemukan. Jika nilai 3 atau 4 klien mampu, dan jika dinilai 0,1 dan 2 klien blum mampu.

Dokumentasi:
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien ketika TAK pada catatan proses keperawatan setiap klien misalnya, klien mengikuti sesi TAK, klien mampu memperkenalkan diri secara verbal dan non verbal, dianjurkan klien memperkenalkan diri pada klien lain diruang rawat ( bulat jadwal ) .


Ø  Setting

 



















Keterangan:

 

            : Fasilitator

 

            :  Klien


 


            : Leader / Co Leader


: Observer



Lampiran :

Jumlah klien yang mengikuti TAK berjumlah 6 orang yaitu:
1.      Tn. Rego
2.      Tn.Santo
3.      Tn. Comen
4.      Tn. Heri nugroho
5.      Tn. Toni husen
6.      Tn. Yanto

Strategi pelaksaan resiko perilaku kekerasan 1 & 2 :
ü  Sesi 1
1.   Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
2.   Mengontrol Resiko Prilaku Kekerasan dengan cara melakukan teknik relaksasi nafas dalam.
3.   Mengajarkan klien memasukan kedalam jadwal aktvitas harian.

ü  Sesi 2
1.   Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
2.   Mengontrol Resiko Prilaku Kekerasan dengan cara memukul bantal.
3.   Mengajarkan klien memasukan kedalam jadwal aktvitas harian.